Dibandingkan dengan wanita, pria lebih terbuka soal pornografi. Namun, bila sudah ketagihan, kegemaran tersebut bisa mengganggu keharmonisan rumah tangga. Konsultan seks On Clinic, dr. Bambang Soekamto melihat manfaat pornografi sebagai variasi agar seks tidak monoton. Namun, tentunya pornografi yang dimaksud yang sifatnya manusiawi.

Menurut dr. Bambang Soekamto, pornografi tak akan mengancam keharmonisan rumah tangga kalau komunikasi antara suami dan istri berjalan dengan baik. Masing-masing pihak bisa saling terbuka soal kekurangan dan kelebihan, serta apa yang mereka inginkan dan yang tak diinginkan, termasuk dalam hal seks. Namun, pornografi akan menjadi masalah jika dikonsumsi berlebihan dan dijadikan obsesi, apalagi jika suami sudah mulai membandingkan bintang porno dengan sang istri. Lalu, masih normalkah kegemaran si dia akan hal pornografi itu? Berikut adalah penggolongan sederhana yang bisa Anda jadikan tolok ukur:

Normal
Jika suami masih bisa mengendalikan diri untuk tidak selalu menuruti nafsu birahi saat melihat materi pornografi. Ia terangsang ketika indranya menangkap sesuatu yang erotis, tapi tidak diikuti dengan tindakan negatif.

Ketagihan
Bila pornografi sudah dijadikan alat pembangkit hasrat biologis sang suami. Lalu hasrat tersebut disalurkan lewat cara-cara terbatas, seperti masturbasi atau berhubungan seks dengan Anda. Hati-hati dengan kemungkinan suami Anda keranjingan. Sarankan padanya untuk mengalihkan perhatiannya pada fantasi seks dengan melakukan kegiatan lain dan tanamkan dalam benaknya bahwa Anda adalah satu-satunya wanita yang mengerti hasrat seksualnya.

Kelainan dan Penyimpangan
Kalau pornografi sudah menjadi gaya hidupnya. Pembicaraan dan tingkah lakunya selalu mengarah ke urusan seks. Ia juga melakukan segala cara, termasuk cara yang tidak lazim atau sadis, untuk menuntaskan nafsu birahinya. Sebaliknya, saat suami tidak terangsang sama sekali melihat pornografi, Anda perlu waswas. Artinya, gairah seksualnya tidak normal. Penyebabnya bisa karena pengalaman seks yang menyakitkan atau menderita penyakit tertentu. Jalan keluarnya adalah dengan berkonsultasi ke seksolog, psikolog, atau psikiater.


Seberapa sering Anda debat kusir dengan pasangan tentang urusan rumah
tangga, lantaran Anda memasang standar terlalu tinggi atau menuntut pasangan bertindak seperti Anda?

Misalnya saja, sebagai pasangan muda Anda dan suami sepakat untuk berbagi tugas mengurus rumah. Tapi selalu saja cara suami salah di mata Anda. Ini tandanya Anda sedang memasang standar Anda untuk dilakukan 100 persen sama, atau bahkan lebih oleh pasangan. Jika begitu, saatnya mengubah mindset kalau ingin lebih bahagia.

Ratih Andjayani Ibrahim, psikolog, mengatakan realitas dalam hidup berpasangan harus dihadapi dengan adanya diskusi, kemudian buat kesepakatan bersama, jalani, dan ikhlas.

"Fokuslah pada solusi bersama dan saat menjalankannya jangan menggunakan standar perempuan, misalkan dalam urusan pekerjaan rumah tangga. Apresiasi pekerjaan suami dalam mengurus rumah, beri pujian meski yang dilakukannya tak maksimal dalam ukuran standar Anda," papar Ratih usai peluncuran varian baru Toblerone di kampus Universitas Trisakti, beberapa waktu lalu.

Penetapan standar tinggi terutama dalam kondisi pasangan Anda (suami) bertindak sebagai bapak rumah tangga, hanya akan membuat hubungan pasangan tidak bertumbuh. Tak sedikit, perempuan yang punya akses lebih terhadap karier dan penghasilan, dan suami bekerja di rumah sekaligus berperan sebagai kepala domestik.

Menurut Ratih, setiap individu juga harus ikhlas mendidik pasangannya jika merasa ada yang kurang dalam hubungan. Untuk bisa menjalani ini, setiap orang harus mampu berdamai dengan dirinya.

"Cinta itu perlu dibangun. Pasangan akan saling belajar satu sama lain, dengan saling mengkomunikasikan kebutuhan," papar Ratih.

Bertumbuh sebagai pasangan memang proses, namun hal ini tergantung bagaimana usaha Anda. Jadi, rasanya bukan waktunya lagi Anda sungkan bicara kebutuhan, dengan tetap saling menghargai standar pasangan.

Jika ingin meniru cara Ratih, spontanitas yang ikhlas bisa jadi solusinya.

"Playfull dengan pasangan, bahkan flirting juga perlu. Tak sulit menyampaikan maksud kepada pasangan, beritahu saja sambil menggodanya," kata Ratih.

Cara seperti ini terbukti ampuh dalam hubungan pernikahannya selama 20 tahun dengan keluarga harmonis beserta dua anak lelakinya.

Category: | 0 Comments


Pria mungkin akan lebih senang bila pasangannya mengenakan pakaian dalam yang serasi, dalam arti bra dan panty-nya satu warna. Lebih-lebih lagi bila Anda memilih warna hitam.

Sebuah studi yang dilakukan Glowhite, sebuah perusahaan laundry di Inggris, menyimpulkan bahwa mayoritas pria menginginkan lingerie warna hitam pekat untuk pasangan mereka. Warna hitam dinilai lebih misterius.

Yang lebih menarik, studi tersebut juga mendapati bahwa hanya sepertiga wanita yang berpikir bahwa warna tersebut yang dipilih pria. Sedangkan dua pertiga dari wanita yang disurvei justru mengira pria lebih suka lingerie warna merah atau yang lain (yang jelas bukan hitam!).

Studi yang dipimpin oleh Dr Beckmann ini diikuti oleh 1.000 pria. Dari jumlah tersebut, 56 persen pria mengatakan bahwa merah adalah warna yang paling tidak mereka sukai (untuk lingerie). Kemudian 18 persen pria mengaku bahwa mereka membenci underwear berwarna pink, dan 11 persen lagi mengaku kurang suka dengan lingerie dengan warna kulit.

Studi Dr Beckmann juga diikuti oleh 1.000 wanita. Hasilnya ternyata sangat bertentangan dengan penemuan dari sisi pria. Pada survei wanita, ditemukan bahwa 61 persen wanita mengatakan justru memilih membeli lingerie warna merah untuk memikat hati pria! Wow... betapa menyedihkan! Inilah hasilnya bila pasangan tidak saling berkomunikasi mengenai apa yang diinginkan atau disukai pasangannya.

Ide bahwa "wanita memakai lingerie merah akan terlihat flirty dan seksi" ternyata hanya merupakan asumsi, baik dari pria maupun wanita. Hal ini juga terbukti dalam penelitian tersebut.

"Secara tradisi, pria membeli pakaian dalam warna merah untuk kekasih atau istri mereka, karena keyakinan bahwa itulah warna lingerie yang paling romantis dan menarik," ujar seorang juru bicara penelitian ini.

Meskipun demikian, masih kata juru bicara tersebut, "Menurut penelitian kami, selera pria modern sudah berubah. Jadi, wanita sebaiknya segera menyingkirkan warna merah, dan ganti dengan warna hitam dan putih jika Anda ingin memberi kesan khusus pada pasangan."

Selain hitam, putih memang merupakan warna lingerie yang diinginkan pria. Warna ini berada di posisi kedua setelah hitam.

Hari ini di sela-sela istirahat jam kantor, saya menyempatkan diri untuk browsing BUSANA MUSLIM khusus untuk anak. Saya sudah berjanji sama Mawar akan membelikannya mukena baru. Saya tau Mawar suka dengan warna biru dan juga suka bunga. Karena itulah saya pilihkan mukena yang berwarna biru lengkap dengan motif bunga-bunga. Harga yang di tawarkan Rp. 75.000, tidak begitu mahal, malahan lebih murah dibandingkan jika saya beli langsung di toko BAJU MUSLIM.

Berhubung minimal pembelian adalah seratus ribu, maka saya juga membelikan Mawar jilbab anak yang berwarna biru juga. Saya yakin dia akan senang sekali ketika kiriman mukena di tambah jilbabnya sudah sampai rumah. Waktu pengiriman cukup singkat, hanyak perlu waktu satu hari. Hal ini dikarenakan rumah saya masih di Jakarta. Biaya pengiriman pun tidak begitu mahal. Kalau di hitung-hitung masih tetep lebih murah jika di bandingkan membeli langsung di toko offline.


Sebagian wanita mengaku telah menemukan G-spot-nya dan mampu mencapai orgasme (bahkan berulang) karena sensitivitas yang dihasilkan. Namun, jika benar demikian, mengapa penelitian terbaru di Journal of Sexual Medicine membuktikan bahwa hal ini sebenarnya tidak pernah ada?

Keberadaan G-spot memang sudah diperdebatkan selama bertahun-tahun. Bahkan, bukti-bukti tentang G-spot sudah ada sejak 3.000 tahun lalu. Para dokter di China yang menganut Taoisme saat itu mengembangkan seni penyembuhan seksual, dan G-spot disebutkan di dalamnya.

Istilah G-spot sendiri mulai dikenal pada tahun 1980-an, sebagai singkatan untuk Dr Grafenberg, seorang ginekolog yang menulis sebuah artikel untuk International Journal of Sexology (terbit pada tahun 1950-an).

Menurut peneliti utama dari Journal of Sexual Medicine tadi, Dr Randy Fink, tidak ada zona erotis perempuan yang dikenal sebagai G-spot, karena itu bukanlah lokasi anatomik yang dapat diidentifikasi dengan pasti pada setiap perempuan.

"Di lab anatomi sekolah kedokteran, siapa saja bisa bertanya pada dosen untuk mengidentifikasi bola mata. Dengan sedikit pembedahan, ahli anatomi dapat memindahkan bola mata mayat, dan menunjukkannya pada mahasiswa," ujar ahli obstetri-ginekologi yang berpraktik di Miami, Florida, ini.

"Namun, hal yang sama tidak dapat dilakukan untuk menemukan G-spot. Itu kelompok saraf yang tidak bertemu di bagian atas dinding vagina, sehingga malah banyak perempuan yang mengatakan mereka tak pernah menemukannya."

Dr Fink meyakini, meskipun G-spot tidak muncul secara fisik, namun keberadaannya memang tergantung pada masing-masing perempuan. Beberapa perempuan mengalami kenikmatan yang hebat dari stimulasi pada area ini, sementara yang lain tidak menemukan kesenangan yang spesifik. Meskipun sudah berusaha keras, mereka toh tidak menemukannya, demikian kesimpulan Dr Fink.

Sifatnya subyektif
Apa pun hasil penelitian tersebut, masih banyak pakar lain yang meyakini bahwa G-spot itu nyata. Keberadaan G-spot didukung habis-habisan dalam buku Love Her Right: The Married Man's Guide to Lesbian Secrets for Great Sex yang ditulis Dr Joni Frater dan Esther Lastique. Salah satu bab dalam buku tersebut menggambarkan bahwa zona tersebut terletak di sepertiga luar kanal vagina. Meskipun G-spot bukanlah satu-satunya cara untuk membangkitkan rangsangan pada perempuan, hal itu termasuk yang paling dibicarakan.

"Sepertiga luar vagina memiliki saraf yang paling sensitif untuk merangsang perempuan. Gerakan memutar dengan tangan atau gerakan penis bisa menstimulasi saraf-saraf tersebut," papar Dr Frater dan Lastique. "Karena area tersebut kecil, seukuran koin, kebanyakan orang memilih untuk mengurangi rangsangan di daerah ini. Padahal bagi banyak perempuan lain, di situlah zona paling menyenangkan yang pernah ada."

Selama stimulasi, jaringan lunak di daerah itu membengkak dan keras, sehingga dapat disentuh dengan menyelipkan jari. Stimulasi yang pas bisa menimbulkan orgasme hebat, dan pada tipe orgasme ini, beberapa perempuan bisa mengalami ejakulasi. Ya, ejakulasi. Mereka mengeluarkan cairan bening dari jaringan lunak. Mirip dengan cairan prostatik, namun banyaknya cairan berbeda-beda pada masing-masing orang.

"Sebagai host acara radio, kami sudah mewawancarai terapis seks, ginekolog, dan banyak pakar lain yang setuju dengan kehadiran dan pentingnya G-spot untuk perempuan," ujar Dr Frater.

Banyak perempuan yang memiliki kapasitas untuk mendapatkan multiorgasme, ketika mengombinasikan stimulasi zona ini dengan teknik lain. Jadi, bila Anda belum menemukannya, keep on searching. Siapa tahu bila Anda menemukannya, Anda akan mendapatkan klimaks yang Anda inginkan selama ini!


Dibohongi pasangan memang merupakan pengalaman yang paling menyebalkan. Apalagi bila kebohongan itu berkaitan dengan hubungan si dia dengan perempuan lain, keluarga, pekerjaan, keuangan, atau bahkan narkoba.

Di luar kebohongan-kebohongan yang tak bisa ditoleransi lagi seperti itu, pria juga sering melakukan kebohongan kecil lain saat bersama Anda. Kebohongan ini biasanya mereka lakukan untuk menutupi rasa bersalah, dan kekhawatiran akan menerima amarah pasangannya. Anda ingin tahu kebohongan apa saja yang mereka ucapkan untuk menghindari kemarahan Anda?

1. "Kamu enggak keliatan gendut kok, pakai baju itu"
Mereka akan menjawab seperti itu saat Anda memintanya untuk mengomentari baju Anda. Jawaban ini diucapkan untuk meningkatkan rasa percaya diri Anda, sekaligus agar Anda tidak terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.

Ladies, Anda sudah tahu kan, apapun jawabannya akan membuat Anda merajuk atau berujung pada pertengkaran. ''Daripada menyulut pertengkaran, lebih baik ajak dia untuk ikut menentukan baju yang mana yang lebih pas untuk Anda,'' saran Doug Hirschhorn, pengarang buku 8 Ways to Great: Peak Performance on the Job and in Your Life.

2. "Ya sayang, aku sudah beres-beres"
Tetapi di mata Anda, semua yang Anda perintahkan tidak ia jalankan. Misalnya, ia tidak meletakkan piring-piring dengan benar. Handuk masih menggantung di kamar mandi, atau, sarung bantal yang dipasangnya bukan pasangan seprainya yang asli. Dasar laki-laki!

Untuk menghindari kekesalan akibat perbuatannya ini, saat Anda memintanya untuk membersihkan rumah, pastikan Anda memberikan instruksi yang tepat dan rinci. Misalnya, mintalah menaruh handuk kotor di dalam mesin cuci. Atau, sebelum memasukkan piring-piring bersih ke dalam lemari, keringkan dulu dengan serbet.

3. "Kamera ini lagi sale setengah harga, lho"
Ia berbohong karena sudah tahu Anda pasti tidak akan memberikan ijin jika ia memberitahu ingin membeli kamera yang amat mahal itu. Namun ketika ia sudah membelinya, jangan buru-buru memberikan ceramah panjang lebar. Bersabar dan katakan padanya bahwa Anda harus memotong beberapa budget untuk menutupi kekurangan uang yang sudah ia gunakan untuk berbelanja kamera.

4. "Enggak, masalah apa? Semua baik-baik aja, kok"
Meskipun mereka sedang menghadapi masalah, mereka akan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Alasan sebenarnya, mereka lebih suka memecahkan masalah mereka sendiri. Yang harus Anda lakukan saat seperti ini adalah memberikan perhatian, bukan solusi. Tanyakan apakah ada yang menganggu pikirannya? Maka pasangan Anda akan membagi cerita pada Anda. Tetapi, tidak usah mencarikannya solusi.

5. "Aku suka semua temanmu"
Teman-teman dekat Anda mungkin selalu membuat ia jadi gugup dan tidak percaya diri. Atau sebaliknya, ia tidak terlalu peduli dengan mereka. Namun, ia akan menghindari penolakan secara halus agar Anda tidak menganggap kalau dia membenci teman-teman Anda. Trik untuk memancing komentarnya yang jujur adalah dengan tidak bertanya apakah dia menyukai teman-teman Anda secara umum. Tanyakan pendapatnya tentang masing-masing teman Anda. Maka ia akan memberikan jawaban dan opini tentang masing-masing teman Anda.

6. "Aku mau ke supermarket"
Padahal, kulkas Anda penuh dan Anda baru saja belanja bulanan beberapa hari lalu. Sebenarnya si dia ingin punya waktu menyendiri, namun takut mengakuinya dan membuat Anda marah. Biarkan ia memiliki waktu untuk dirinya sejenak. Setelah ia pulang, baru Anda berbagi cerita padanya.

7. "Ibuku suka makan malamnya"
Ia ingin Anda dan keluarganya tetap akrab. Untuk itu ia menutupi ketidaksukaan orangtuanya dengan masakan Anda. Saran untuk Anda: jelaskan padanya agar lebih baik berterus terang. Anda tidak akan tersinggung, karena cara itu akan membuat Anda nantinya akan menjamu orangtua Anda dengan lebih baik lagi.

8. "Aku enggak jalan bareng mereka kok tadi malam"
Ia tahu beberapa temannya membawa pengaruh yang buruk, dan Anda tidak menyukai mereka. Namun ia juga tidak ingin membuat Anda kecewa dan mengira ia mementingkan teman-temannya. Jalan keluarnya?

Katakan padanya, meskipun ia berteman dengan orang-orang yang membawa pengaruh buruk, bukan berarti Anda menganggap kalau ia akan melakukan hal yang sama seperti temannya. Katakan bahwa Anda percaya padanya.


Ingin tahu, apakah hubungan Anda dan pasangan termasuk harmonis? Menurut penelitian, pasangan yang biasa membahasakan diri "kita" atau "kami", dan bukannya “aku” dan “kamu”, adalah pasangan yang lebih bahagia, bahkan lebih sehat.

Kata ganti inklusif, seperti “kita” atau “kami” terbukti menunjukkan kepuasan dalam pernikahan, bahkan pada pasangan muda. Journal Psychology and Aging edisi September juga menyebutkan hal ini berlaku untuk pasangan yang lebih mapan ketika konflik mulai berkembang. Penggunaan kata ganti tersebut juga menunjukkan denyut jantung yang lebih rileks dan tekanan darah yang normal pada pasangan.

“Kami mendapati lebih banyak bahasa “kita” pada pasangan yang lebih tua dan pasangan yang lebih bahagia,” tegas Robert Levenson, peneliti senior pada penelitian yang diadakan University of California di Berkeley itu, pada Associated Press. "Hal itu bukan sesuatu yang mereka pikirkan secara sadar, dan mungkin tidak mengetahuinya. Itu hanya sepotong perilaku yang dapat kami hitung."

Yang menarik, menggunakan kata "kita" itu juga baik untuk kesehatan. Enggak percaya? Untuk membuktikannya, tim Levenson mengumpulkan 154 pasangan usia paruh baya dalam penelitiannya. Mereka melakukan diskusi selama 15 menit dimana mereka saling tidak sepakat. Sementara itu, denyut jantung dan tekanan darah mereka dimonitor di laboratorium Levenson.

Hasilnya, pasangan yang berdebat namun masih menggunakan kata ganti tersebut umumnya memiliki denyut jantung dan tekanan darah yang lebih rendah. Sebaliknya, mereka yang lebih banyak menggunakan "aku" kerap terlihat memasang ekspresi wajah, nada suara, postur tubuh, dan gerak-gerik yang negatif.

Anda yang terbiasa membahasakan diri dengan "aku", tak perlu kecewa. Para pakar hubungan ini percaya, hanya dengan mengubah kebiasaan tersebut dengan kata "kita" atau "kami", hubungan Anda dengan pasangan pun akan terpengaruh ke arah yang positif.

"Hal itu seperti, tidak ada 'aku' dalam tim. Ada banyak petunjuk kok, mengenai hal ini," kilah Levenson. "Ini mungkin menjadi satu cara untuk menguatkan partnership dalam hubungan itu."

Anda penasaran dengan hasil penelitian ini? Tak ada salahnya mencoba, kan? Atau, Anda ingin sharing dengan pengalaman Anda sendiri?